Arsitektur Lingkungan

Standar

Nama : Dini Indah Saraswati
Npm : 22313576
Kelas : 2TB04
Matkul : Arsitektur Lingkungan
Dosen : Edi Sutomo

DEFINISI

ARSITEKTUR EKOLOGI

Ekologi biasanya di mengerti sebagai hal-hal yang saling mempengaruhi : segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia) dan lingkungannya (cahaya, suhu, curah hujan, kelembapan, topografi, dsb). Demikian juga prosese kelahiran , kehidupan, pergantian generasi, dan kematian yang semuanya menjadi bagian dari pengetahuan manusia. Semua itu berlangsung terus dan dinamakan sebagai ‘hukum alam’.

1. Istilah ‘ekologi’
stilah ‘ekologi’ pertama kali di perkenalkan oleh Ernst Haeckel, ahli ilmu hewan pada tahun 1869 sebagai ilmu interaksi antara segala jenis makhluk hidup dan lingkungannya, jadi Ekologi dapatdi defenisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Persoalan tentang wawasan lingkungan pada masa kini memperkembangkan rasa tanggu jawab terhadap lingkungan danm mendorong kedudukan ekologi dari segi akademis menjadi perhatian umum. Hal ini mengakibatkan Ekologi di samping menjadi bagian kelimuan juga ilmu lingkungan yang megandung pengetahuan dan pengalaman kebutuhan masyarakat di bidang ekonomi dan politik. Adapun prinsip-prinsip arsitektur ekologi antara lain:
a. Flutuation
Prinsip fluktuasi menyatakan bahwa bangunan didisain dan dirasakan sebagai tempat membedakan budaya dan hubungan proses alami. Bangunan seharusnya mencerminkan hubungan proses alami yang terjadi di lokasi dan lebih dari pada itu membiarkan suatu proses dianggap sebagai proses dan bukan sebagai penyajian dari proses, lebihnya lagi akan berhasil dalam menghubungkan orang-orang dengan kenyataan pada lokasi tersebut.
b. Stratification
Prinsip stratifikasi menyatakan bahwa organisasi bangunan seharusnya muncul keluar dari interaksi perbedaan bagian-bagian dan tingkat-tingkat. Semacam organisasi yang membiarkan kompleksitas untuk diatur secara terpadu.
c. Interdependence (saling ketergantungan)
Menyatakan bahwa hubungan antara bangunan dengan bagiannya adalah hubungan timbal balik. Peninjau (perancang dan pemakai) seperti halnya lokasi tidak dapat dipisahkan dari bagian bangunan, saling ketergantungan antara bangunan dan bagian-bagiannya berkelanjutan sepanjang umur bangunan.

Eko-arsitektur menonjolkan arsitektur yang berkualitas tinggi meskipun kualitas di bidang arsitektur sulit diukur dan ditentukan, tak ada garis batas yang jelas antara arsitektur yang bermutu tinggi dan arsitektur yang biasa saja. Fenomena yang ada adalah kualitas arsitektur yang hanya memperhatikan bentuk dan konstruksi gedung dan cenderung kurang memperhatikan kualitas hidup dan keinginan pemakainya, padahal mereka adalah tokoh utama yang jelas.

Dalam pandangan eko-arsitektur gedung dianggap sebagai makhluk atau organik, berarti bahwa bidang batasan antara bagian luar dan dalam gedung tersebut, yaitu dinding, lantai, dan atap dapat dimengerti sebagai kulit ketiga manusia (kulit manusia sendiri dan pakaian sebagai kulit pertama dan ke dua). Dan harus melakukan fungsi pokok yaitu bernapas, menguap, menyerap, melindungi, menyekat, dan mengatur (udara, kelembaban, kepanasan, kebisingan, kecelakaan, dan sebagainya). Oleh karena itu sangat penting untuk mengatur sistem hubungan yang dinamis antara bagian dalam dan luar gedung. Dan eko-arsitektur senantiasa menuntut agar arsitek (perencana) dan penguna gedung berada dalam satu landasan yang jelas.

2. Dasar-dasar Arsitektur Ekologi
Arsitektur atau eko-arsitektur lebih indah, lebih tepat guna dari pada gedung-gedung biasanya, yang menonjol adalah arsitektur yang berkualitas tinggi. Kualitas biasanya sulit diukur dan ditentukan, terlebih lagi dari bidang arsitektur. Dimana garis batas antara arsitektur yang bermutu tinggi (berkualitas) dan arsitektur yang biasa saja.
Pembahasan kualitas di bidang arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk gedung dan konstruksinya, tetapi mengabaikan tokoh utamanya yaitu manusia. Dalam eko-arsitektur terdapat dasar-dasar pemikiran yang perlu diketahui, antara lain :
1. Holistik
Dasar eko-arsitektur yang berhubungan dengan sistem keseluruhan, sebagai satu kesatuan yang lebih penting dari pada sekedar kumpulan bagian.
2. Memanfaatkan pengalaman manusia
Hal ini merupakan tradisi dalam membangun dan merupakan pengalaman lingkungan alam terhadap manusia.
3. Pembangunan sebagai proses dan bukan sebagai kenyataan tertentu yang statis.
4. Kerja sama antara manusia dengan alam sekitarnya demi keselamatan kedua belah pihak.

Dengan mengetahui dasar-dasar eko-arsitektur di atas jelas sekali bahwa dalam perencanaan maupun pelaksanaan, eko-arsitektur tidak dapat disamakan dengan arsitektur masa kini. Perencanaan eko-arsitektur merupakan proses dengan titik permulaan lebih awal. Dan jika kita merancang tanpa ada perhatian terhadap ekologi maka sama halnya dengan bunuh diri mengingat besarnya dampak yang terjadi akibat adanya klimaks secara ekologi itu sendiri. Adapun pola perencanaan eko-arsitektur yang berorientasi pada alam secara holistik adalah sebagai berikut :
a. Penyesuaian pada lingkungan alam setempat.
b. Menghemat energi alam yang tidak dapat diperbaharui dan mengirit penggunaan energi.
c. Memelihara sumber lingkungan (air, tanah, udara).
d. Memelihara dan memperbaiki peredaran alam dengan penggunaan material yang masih dapat digunakan di masa depan.
e. Mengurangi ketergantungan pada pusat sistem energi (listrik, air) dan limbah (air limbah, sampah).
f. Penghuni ikut secara aktif dalam perencanaan pembangunan dan pemeliharaan perumahan.
g. Kedekatan dan kemudahan akses dari dan ke bangunan.
h. Kemungkinan penghuni menghasilkan sendiri kebutuhan sehari-harinya.
i. Menggunakan teknologi sederhana (intermediate technology), teknologi alternatif atau teknologi lunak.

3. Bangunan sebagai kulit ketiga manusia

Memperhatikan gedung sebagai makhluk organik, berarti bahwa bidang batasan antara bagian dalam dan bagian luar gedung tersebut yaitu dinding, lantai dan atap, dapat di artikan sebagai kulit manusia yang ketiga (kulit manusia sendiri dan pakaian sebagai kulit pertama dan kedu) dan harus melakukan fungsi-fungsi pokok sebagai berikut: bernafas, menguap, menyerap, melindungi, menyekat, dan mengatur udara, kelembapan, kepanasan, kebisisngan, kecelakaan, kegunaan dan sebagainya.

Sayangnya hampir semua gedung modern yang merupakan sistem tertutup menggunakan bahan sintetis atau bahan yang canggih seperti misalnya kaca atau aluminium yang tidak dapat bernafas dan menguap, dengan memakai penghawaan teknis (AC) daripada penyejuk udara secara alamiah atau pemakaian lapisan dinding serta langit-langit yang tipis dengan permukaann yang licin dank eras sehingga tidak menyerap bising dan panas.

Menyadari hal-hal tersebut maka perencanaan arsitektur, penentuan struktur gedung dan konstruksi, serta pemilihan bahan bangunan semuanya harus dilakukan dengan teliti dan penuh kepekaan karena kita membicarakan kulit ketiga manusia dan kualitas arsitektur.

Sebaiknya di pilih bahan bangunan yang sedemikian rupa sehingga perpengaruh baik terhadap penghuni seperti kayu, bambu, serat-serat, daun-daunan, batu bata, batu alam, ubin bata tanah liat, plasteran tanpa semen dan sebagainya, dengan cat, pengawetan, dan finishing lainnya yang alamiah juga.

4. Unsur pokok arsitektur ekologi
a. Udara
Udara untuk bernafas . hubungann erat antara udara pernafasan dan kehidupan adalah pengalaman kehidupan manusia. Makin tercemar udara maka kualitas kehidupan semakin menurun,
b. Air
Air sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup di muka bumi.
c. Api
Api (energi), sebagai sumber energy dan sumber salah satu sumber kehidupan bagi makhluk hidup.
d. Bumi
Bumi menjadi sumber bahan baku dan menjadi tempat kehidupan makhluk hidup.

5. Ekologi dan Arsitektur Ekologi
Atas dasar-dasar pengetahuan arsitektur ekologi yang telah di uraikan , maka perhatian pada arsitektur sebagai ilmu teknik di alihkan kepada arsitektur kemanusiaan yang memperhitungkan juga keselarasan dengan alam dan kepentingan manusia penghuninya.
Pembangunan rumah atau tempat tinggal sebagai kebutuhan kehidupan manusia dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan alamnya di namakan arsitektur ekologis atau eko-arsitektur.

ddddddddd

Sumber: Heinz Frick FX. Bambang Sukianto 1998.
Gambar 1. Konsep eko-arsitektur yang holistis (sistem keseluruhan)
Sebenarnya, eko-arsitektur tersebut juga mengandung bagian-bagian dari arsitektur biologis (arsitektur kemanusiaan yang memperhatikan kesehatan), arsitektur alternatif, arsitektur matahari (dengan memanfaatkan energy surya), arsitektur bionik (teknik sipil dan konstruksi yang memperhatikan kesehatan manusia), serta biologi pembangunan.
Maka istilah eko-arsitektur adalah istilah holistik yang sangat luas dan mengandung semua bidang. Eko-arsitektur tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur kerena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau ukuran baku. Namun ,eko-arsitektur mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan alamnya.

6. Keseimbangan dengan alam
Pada penentuan lokasi gedung di perhatikan fungsi dan hubungannya dengan alam, seperti matahari, arah angin, arah hujan, aliran air di bawah tanah, dan sebagainya. Setiap serangan terhadap alam mengakibatkan suatu luka yang mengganggu keseimbangannya.
Dengan sadar atau tidak sadar manusia telah menghancurkan keseimbangan dengan alamnya sehingga terjadi ketidakseimbangan antara makrosmos dan mikrosmos. Seperti manusia dalam lingkungan ilmiah, sebenarnya menjadi spesialias hanya dalam aspek keahliannya tetapi tetap bersatu di dalam wadah kemanusiaan.
Maka pengertian keseimbangan dengan alam mengandung kesatuan makhluk hidup (termasuk manusia) dengan alam sekitarnya secara holistis. Yang perlu di tinjau dalam keseimbangan dengan alam antara lain:
Pada bagian persyaratan kenyamanan telah dibicarakan persoalan pencahayaan, iklim dan kelembapan, serta kebersihan udara. Dalam rangka persyaratan kenyamanan, masalah yang harus diperhatikan terutama berhubungan dengan ruang dalam. Tentu saja masalah tersebut mendapat pegaruh besar dari alam dan iklim tropis di lingkungan sekitarnya, yaitu sinar matahari dan orientasi bangunan, angin dan pengudaraan ruangan, suhu perlindunga terhadap panas, curah hujan dan kelembapan udara.

7. Alam sebagai pola perencanaan
Struktur-struktur alam selalu terbentuk sebagai peredaran alam. Sebuah rumah adalah buatan manusia; walaupun demikian, menurut paham orang jawa rumah di anggap milik wahyu. Berarti rumah juga jadi organisme alam, seperti ada anggapan bahwa seluruh dunia juga jadi organism.
Organisme alam yang mengalami kelahiran, kehidupan, dan kematian sebagai konsep mikrosmos yang meniru makrosmos yang tidak terhingga. Alam sebagai pola perencanaan eko-arsitektur yang holistis kemudian dapat di simpulkan dengan persyaratan berikut:
a. Penyesuaian pada lingkungan alam setempat
Dampak positif terhadap lingkungan yang dapat di capai oleh arsitektur ekologis makin besar, makin banyak tuntutan ekologis pada tempat tertentu dapat di peroleh. Persyaratan yang menguntungkan adalah konsep tata kampong atau tata kota dalam skala cukup luas.

b. Menghemat sumber energi alam yang tidak dapat diperbaharui dan mengirit penggunaan energy
Energi yang dapat di perbaharui berhubungan dengan teknologi baru dan kurang membebani lingkungan alam jika di bandingkan dengan sumber energi yang terbatas. Penggunaan energi surya (air panas, listrik), angin (penyejuk udara, listrik dan pompa air), arus air sungai (pengairan, listrik), atau ombak laut (listrik) dapat di integrasikan dalam proyek eko-arsitektur.

c. Memelihara sumber lingkungan
Setiap kegiatan manusia, apakah membangun rumah atau menjalankan kendaraan bermotor, merusak sebagian dari lingkungannya dan mencemari udara (gas buangan, asap, kebisingan), tanah (jalan raya dan gedung mengganti lahan rumput), dan air (pencemaran udara mengakibatkan air hujan asap, perembesan air kotor mencemari sumber air minum.

d. Memelihara dan memperbaiki peredaran alam
Karena semua ekosistem dapat dimengerti sebagai peredaran alam, harus diperhatikan supaya kegiatan manusia jangan merusaknya. Semua kegiatan baru seperti misalnya mengguanakan untuk membangun rumah harus dilakukan sedemikian rupa sehingga rantai bahannya berfungsi juga sebagai peredaran.

e. Mengurangi ketergantungan pada sistem pusat energi (listrik, air) dan limbah (air limbah, sampah)
Setiap jaringan energi seperti listrik atau air minum membutuhkan banyak energi dalam persediaan dan mengakibatkan banyak kerugian. Pembuangan air limbah/mengancam lingkungan alam dan sumber air minum. Jika energy dibangkitkan pada tempat (misalnya energy surya) dan air limbah di olah langsung dan secara alami, ketergantungan dan kehilangan (transmission loss) dapat dicegah.

f. Menggunakan teknologi sederhana
Dampak buruk dan negatif teknologi dapat diatasi dengan penggunaan dan pemanfaatan teknologi sederhana (intermediate technology), teknologi alternatif, atau teknologi lunak dari pada teknologi high-tech yang juga di artikan sebagai teknologi keras.

Pembanguna secara ekologis berarti pemanfaatan prinsip-prisnsip ekologis pada perencanaan lingkungan buatan. Pada pembangunan biasa seluruh gedung berfungsi sebagai sistem yang memitas, yang mengurangi kualitas lingkungan (pass trough system).

ARSITEKTUR BIOLOGI

Dasar kehidupan kita antara lain mencakup pembangunan dan pemukiman. Dasar ini sebenarnya menjadi titik pangkal cara kita membangun. Akan tetapi dewasa ini banyak hal tentang dasar-dasar kehidupan itu telah disingkirkan.
Salah satu tujuan penting dari cara membangun, ialah perlindungan terhadap penghuni. Perencanaan proyek besar – juga di Indonesia – pada tahun-tahun yang lalu sering lebih banyak memperhatikan masalah teknis dan bahan bangunan daripada kenyamanan dan perlindungan penghuninya. Hasil arsitektur atau bangunan yang dianggap modern sering kali tidak sesuai untuk tempat kediaman atau pemukiman manusia.
Kehidupan manusia bersegi dua, yaitu alam dan teknik. Teknik dilahirkan dimana terdapat kekurangan. Dalam hal ini teknik diciptakan sebagai alat pembantu/buatan untuk menjembatani kesenjangan yang terjadi karena proses biologic yang terlambat atau memakan waktu yang terlalu lama. Akan tetapi penggunaan teknik yang berlebihan mengakibatkan keadaan kritis dalam kaitannya dengan biologi, psikologi, dan ekologi. Keadaan kritis tersebut merupakan harga yang harus dibayar atas keuntungan teknik yang sangat terbatas. Dalam hal ini arsitektur biologic akan mempergunakan teknologi alam untuk menetralisasi keadaan kritis tersebut. Arsitektur biologic adalah sebagian dari arsitektur ekologik yang jauh lebih luas dan rumit karena juga memperhatikan pengaruh pembangunan alternatif, bionic (teknik dan konstruksi biologic), iklim dan keadaan setempat serta biologi pembangunan.
Atas dasar pengetahuan di atas, maka perhatian kepada arsitektur teknik dialihkan kepada arsitektur kemanusiaan yang memperhitungkan juga keselarasan dengan alam maupun kepentingan manusia penghuninya. Pembangunan menurut kebutuhan manusia itu kita namakan pembangunan secara biologis atau arsitektur biologis. Biologis berasal dari kata à (bios, bahasa Yunani), yang berarti alah kehidupan/alam tumbuh-tumbuhan dan à (logos, bahasa Yunani) berarti dunia teratur, dunia berakal. Rumah tempat tinggal boleh dianggap sebagai suatu susunan organis, yang berfungsi sebagai kulit manusia yang ketiga (pakaian sebagai kulit kedua). Istilah arsitektur biologis tersebut memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan alam sekitar. Jadi :

“Arsitektur Biologis berart ilmu penghubung antara manusa dan lingkungannya secara keseluruhan”

Titik berat definisi tersebut di atas terletak pada kata keseluruhan. Hanya penyelesaian secara interdisipliner memungkinkan pengertian sepenuhnya. Hubungan-hubungan arsitektur biologis dapat diperlihatkan sebagai
berikut:

1

Daftar kata dan istilah di atas menentukan hubungan erat antara bagian arsitektur/pembangunan, biologi/kehidupan dan logos/dunia teratur secara interdisipliner.
Jikalau kemanusiaan dan kebudayaan tidak menjadi pusat pada penyelesaian arsitektur/pembangunan, maka prinsip biologis diabaikan. Bila itu terjadi, arsitektur dan teknik di bidang bangunan perumahan hanya akan membentuk rumah dan tempat kediaman tanpa roh dan jiwa, tanpa rasa kemanusiaan. Manusia sebagai penghuni gedung dan bangunan tersebut akan terasing.
Kehidupan, pemukiman dan pembangunan merupakan materi yang rumit dan berlapis majemuk. Penyelesaian yang baik hanya dapat dihasilkan dalam kerja sama antara berbagai unsur yang terkait.
Pentingnya arsitektur dan arsitek dicerminkan oleh komposisi dan penghubungan bagian-bagian sebagai sesuatu yang harmonis dan kompleks. Kualitas bangunan dengan bagian-bagian material dan rohani menentukan kualitas lingkungan hidup manusia. Perhatian terhadap tiap-tiap bagian yang mempengaruhi kualitas kehidupan, dilakukan oleh arsitektur biologis.

ARSITEKTUR LINGKUNGAN

A. Definisi Arsitektur Lingkungan
Definisi jasa arsitektur menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005 adalah jasa konsultasi arsitek, yaitu mencakup usaha seperti: desain bangunan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, dan sebagainya.
Selain definisi di atas, terdapat beberapa definisi arsitektur berasal dari sumber acuan lainnya, yaitu:
1. Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture ), berarti seni dan ilmu membangun bangunan. Menurut asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan techton = adalah karya kepala tukang. Arsitektur dapat pula diartikan tukang, maka architecture sebagai suatu pengungkapan hasrat ke dalam suatu media yang mengandung keindahan.
2. Berdasarkan anggaran dasar Ikatan Arsitektur Indonesia, arsitektur didefinisikan sebagai wujud hasil penerapan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni secara utuh dalam menggubah ruang dan lingkungan binaan, sebagai bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia.
3. Berdasarkan wikipedia, arsitektur adalah aktivitas desain dan membangun sebuah gedung serta struktur fisik lainnya, yang memiliki tujuan utama untuk menyediakan tempat berteduh bagi kepentingan sosial. Dalam definisi yang lebih luas, arsitektur juga meliputi desain dari keseluruhan lingkungan bangunan, dari level makro, yaitu bagaimana bangunan dapat bersatu dengan bentang di sekitarnya sampai dengan tingkat mikro dari arsitektur atau detil konstruksi, misal: furnitur.
Definisi asitektur sebenarnya sangatlah luas. Definisi arsitektur pun hingga saat ini masih sering diperdebatkan. Tetapi dalam rangka pengembangan peta jalan pengembangan industri arsitektur ini, maka arsitektur didefinisikan sebagai wujud hasil penerapan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni secara utuh dalam menggubah ruang dan lingkungan binaan, sebagai bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia, sehingga dapat menyatu dengan keseluruhan lingkungan ruang dari tingkat makro sampai dengan tingkat mikro.
Pada skala makro, arsitektur berkaitan dengan perencanaan tata kota (town planning, hingga perencanaan transportasi, urban/rural planning ), landscape planning, urban design. Sedangkan dalam skala mikro dimulai dari perencanaan interior ruangan hingga bangunan termasuk eksterior maupun taman.

Definisi lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).

Dari uraian di atas, dapat di katakan bahwa definisi arsitektur lingkungan adalah ilmu bangun membangun yang berkaitan dengan perencanaan tata kota, landscape planning, urban design, interior maupun eksterior yang memperhatikan kondisi fisik sumber daya alam, yang meliputi air, tanah, udara, iklim, cahaya, bunyi dan kelembapan. Arsitektur lingkungan sangat berkaitan erat dengan arsitektur hijau (green architectur) karena sama – sama berhubungan dengan sumber daya alam.
B. Aspek – aspek yang Mempengaruhi
Dalam mengusung tema Arsitektur Lingkungan, ada beberapa aspek yang mempengaruhi, yaitu sebagai berikut.
1. Material Organik
Material yang di maksud secara ekologi adalah material yang ramah lingkungan, dan mudah di dapat, sebenarnya tidak larangan jika harus menggunakan bahan – bahan modern yang ada, hanya saja volume penggunaan yang harus ada kesepakatan, di samping bahan konvensional secara umum dan moderen , material Ekologis secara spisifikasi dapat kita bedakan sebagai berikut:
– Pondasi, dapat menggunakan material : batu kali, batu gunung, kayu / bamboo sebagai pasak bumi

– Dinding, dapat menggunakan bahan bamboo, batu bata, kayu, tanah liat,bahan daur ulang darikertas

– Jendela, dapat menggunakan kayu, bamboo, kertas, ( secara teknis dapat kita gunakan sebagai tiraiatap, dapat menggunakan daun – daunan, bamboo,kayu, dan lainnya
2. Sirkulasi Udara

Bangunan Ekologi secara umum memaksimalkan sirkulasi udara secara alami dan memminimalkan penggunaan udra buatan seprti AC, Kipas angin, Exhause, dll. Jendela serta ventelasi yang di terapkan pada bangunan haru s juga di sesuai dengan arah angin, penerapan atap bangunan tradisional adalah salah satu solusi untuk memberikan kenyamanan dalam ruang,atap yang tinggi juga membuat udara dapat mengatur pola sirkulasinya, Angin juga berlaku dapat kasar terhadap lingkungan serta fisik bangunan,jadi perlu di adakan antisipasi terhadap pengaruh negative angin, seperti, pembuatan ventilasi / bukaan secara maksimal, pemasangan tirai – tirai, penaman pohon – pohon atau tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

3. Bentuk Masa Bangunan

Bentuk masa bangunan secara ekologi, yaitu pengadopsian bentuk – bentuk yang ramah lingkungan, seperti : Bentuk Arsitektur Tradisional local, Bentuk masa bangunan lebih terbuka sehingga ada keterikatan antara lingkungan dan bangunan atau sebaliknya, di mensi bangunan di olah semaksimal mungkin sehingga tidak terjadinya perbedaan yang mencolok terhadap bangunan penduduk local, bentuk bangunan juga di sesuaikan dengan material yang di gunakan

4. Penghijauan (Vegetasi)

Penghijauan sangatlah penting untuk tetap terjaganya kualitas lingkungan yang berkelanjutan, penerapan bangunan di daerah – daerah lingkungan hutan yang terjaga dan di lindungi dapat menimbulkan resiko yang berpotensi terhadap kerusakan lingkungan, seperti yang telah kita bahas di atas, bahwa perencanaan bangunan harus di melalui studi lingkungan terlebi dahulu.

Arsitektur Lingkungan selain dari pada bentuk masa bangunan, material, tata ruang atau pun nilai kearifan lokal yang ada, juga adalah kepedulian kita sendiri terhadap bangunan tersebut, bagaimana kita mengartikan fungsi dari pada bangunan tersebut,bagaimana kita mengelolanya, dan bagaimana kita merawatnya.

Perbedaan Arsitektur Ekologi, Biologi, dan Lingkungan :
Arsitektur Ekologi menerapkan segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia) dan lingkungannya (cahaya, suhu, curah hujan, kelembapan, topografi, dsb). Demikian juga prosese kelahiran , kehidupan, pergantian generasi, dan kematian yang semuanya menjadi bagian dari pengetahuan manusia. Pembangunan secara ekologis berarti pemanfaatan prinsip-prisnsip ekologis pada perencanaan lingkungan buatan. Pada pembangunan biasa seluruh gedung berfungsi sebagai sistem yang memitas, yang mengurangi kualitas lingkungan (pass trough system). Sedangkan, Arsitektur Biologi “Arsitektur Biologis berart ilmu penghubung antara manusa dan lingkungannya secara keseluruhan” Salah satu tujuan penting dari cara membangun, ialah perlindungan terhadap penghuni. Dan yang terakhir Arsitektur Lingkungan Penghijauan sangatlah penting untuk tetap terjaganya kualitas lingkungan yang berkelanjutan, penerapan bangunan di daerah – daerah lingkungan hutan yang terjaga dan di lindungi dapat menimbulkan resiko yang berpotensi terhadap kerusakan lingkungan, seperti yang telah kita bahas di atas, bahwa perencanaan bangunan harus di melalui studi lingkungan terlebi dahulu.

Referensi
(http://jakartakreatif.com/index.php?option=com_content&view=article&id=39:pengertian-arsitektur&catid=11:arsitektur&Itemid=102&lang=en;
http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan;
http://arsitekturlingkungan.blogspot.com/2009/04/arsitektur-lingkungan.html)
Sumber : Arsitektur dan Lingkungan – Ir. Heinz Frick
http://eprints.undip.ac.id/32380/
http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ekologi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s